Kembali ke Daftar Artikel

Topik Artikel: Spandek Baja Ringan
Card image cap

Berapakah Gradien / Kemiringan Atap yang Ideal ?

Atap rumah menjadi elemen terpenting dalam bangunan, berfungsi untuk melindungi penghuni bangunan dari panas, hujan, angin, ataupun gangguan lain akibat perubahan cuaca, terutama yang ekstrim, khususnya pada rumah hunian. Tidak lupa sebagai salah satu komponen yang terlihat dari luar / terekspos, pemilik rumah hunian tentu ingin tampilan atap yang unik dan cantik sebagai estetika dari bangunan. Di dunia arsitektur sendiri, atap merupakan kompetisi kemegahan, untuk memunculkan bentuk khusus, terspesifik, dan unik dari berbagai material bahan bangunan yang tersedia, karena atap adalah salah satu komponen yang dibangun setelah struktural gedung selesai, tetapi menjadi yang pertama dilihat oleh orang bahkan sebelum bangunan tersebut jadi atau finishing.

Atap memiliki kemiringan tertentu yang sudah ditentukan. Standar kemiringan harus disesuaikan dengan bentuk atap dan material pembuat atap. Penerapan standar ini bertujuan untuk mencegah permasalahan seperti kebocoran atau rembes, genteng mudah merosot, dan kemungkinan komponen roboh saat pemasangan. Disadur dari SNI 1727-2013 (2013, 72/195), standar kemiringan yang bisa dihitung dan ditolerir adalah kurang dari atau sama dengan 45 derajat dan berlaku untuk atap rumah. Kemiringan ini kelak akan menentukan kekuatan struktur terhadap tekanan angin, beban hidup dan beban mati,  dan beban struktur lainnya.

Berdasarkan penjelasan diatas, mari kita belajar cara menghitung kemiringan atap rumah. Ikuti langkah dibawah ini ya Sahabat IBI. 

  1. Mementukan denah rumah dan jenis atap yang akan diterapkan. Ukur panjang dan lebar dari rumah, dilihat dari as bangunan, yakni titik tengah dari dinding bangunan existing / yang sudah ada. Untuk atap pelanan dan limas, setengah alas atap rumah. Ukur panjang sisi atap rumah, kemudian dibagi menjadi dua.  
  2. Mengukur tinggi atap rumah. Cara mengukurnya dimulai dari batas plafon rumah sampai sisi atap yang paling tinggi. Bentuknya, biasa terlihat seperti belahan atau pemisah atap rumah. 
    3. Menghitung kemiringan atap. Untuk menghitung kemiringan atap rumah menggunakan rumus phytagoras: c² = b² + a². Variabel c sebagai nilai kemiringan, b sebagai alas atap, dan a sebagai tinggi atap. Contohnya, di bawah ini :

√ Alas² + Tinggi² = Kemiringan Atap
√ 6² + 3.5² = Kemiringan Atap
√ 36 + 12.25 = Kemiringan Atap
√ 48.25 = Kemiringan Atap
6.95 meter = Kemiringan Atap

 

Selain menghitung kemiringan atap, kita juga bisa menghitung sudut atap rumah kita. Dalam menghitung rumus sudut atap rumah, menggunakan jarak horizontal (x) dan jarak vertikal (y) dari atap, lalu menggunakan rumus kebalikan (inversi) tangensial (ATAN). Seperti contoh dibawah ini :
1. Diketahui panjang horizontal ujung atap dari titik terendah ke titik tertinggi adalah x = 4 meter dan panjang vertikal ujung atap dari titik terendah ke titik tertinggi adalah y = 3 meter. 

Sudut C = ATAN (Y/X)
Sudut C = ATAN (3/4)
Sudut C = 36.86 derajat.

Setelah mendapatkan hasil ukuran kemiringan atap rumah, Sahabat IBI harus menentukan material apa yang cocok digunakan untuk bangunan atap rumah kalian. Berikut jenis atap berdasarkan kemiringannya :
1. Atap Genteng Tanah Liat. 
   Atap yang paling umum digunakan oleh masyarakat Indonesia. Atap ini mempunyai kemiringan sekitar 30 – 40 derajat. Apabila tidak sesuai dengan derajat yang sudah ditentukan, bisa ditambahkan atap dibawahnya jika itu landai. Apabila dibuat tegak, maka ada tambahan untuk memperkuat genteng. 


2. Atap Asbes atau Seng.
   Selain atap genteng tanah liat, atap seng atau asbes menjadi primadona kedua pemilihan atap yang digunakan masyarakat Indonesia. Penggunaan atap asbes atau seng dipilih karena tahan bocor, pemasangan yang mudah, serta harga terjangkau dan aman dikantong. Atap ini mempunyai kemiringan sekitar 15 – 25 derajat. Saat pemasangan atap seng atau asbes, pastikan kemiringan atap tidak terlalu curam. Karena, bentuk lembaran permukaan atap yang lebar mudah untuk diterpa angin kencang dan hujan. 


3. Atap Dak.
   Atap dak atau cor dibuat dengan kemiringina 0 derajat pada bangunan flat roof. Jika desain bangunan rumah anda mempunyai bentuk tidak flat roof, anda bisa menyesuaikan derajat kemiringan sesuai dengan desain rumah. Tetapi, anda harus melapisi atap dak dengan lapisan waterproof supaya terhindar dari kebocoran atap. Teknik mengaduk semen yang baik juga berpengaruh terhadap merembes atau tidaknya air


4. Atap Genteng Metal.
   Atap ini biasanya disebut sebagai genteng multiroof oleh masyarakat umum. Atap jenis ini menjadi pendatang baru yang diminati masyarakat. Atap jenis ini mempunyai berat yang ringan berkisar 25 – 75 kg per m2 dan pemasangan mudah serta praktis. Untuk standar ideal kemiringannya ada di angka 25 – 35 derajat. 


5. Atap Spandek. 
   Sama halnya dengan atap genteng metal, atap spandek juga menjadi primadona material baru di masyarakat. Atap spandek terbuat dari bahan campuran dari aluminium, seng, dan silicon. Atap ini bersifat ringan dan mempunyai daya tahan yang lama. Standar kemiringan untuk atap model ini adalah 5 – 45 derajat. 

Setelah membaca informasi diatas, apakah sahabat IBI sudah menentukan atap mana yang akan digunakan ? Jika belum dan masih bimbang, Sahabat IBI bisa berkonsultasi dengan kami. Sekian informasi yang mimin berikan. Semoga informasi ini bisa bermanfaat untuk Sahabat IBI. 

Nah, apabila sahabat IBI membutuhkan informasi seputar baja ringan, langsung saja hubungi IBI Truss. IBI Truss menyediakan berbagai macam material baja ringan mulai dari canal, reng, spandek, hollow, bondek, genteng metal polos atau pasir, baut, dan material pendukung lainnya.

Kembali ke Daftar Artikel